SALATIGA – Kebanggaan kembali menghampiri Ma’had Al-Jami’ah UIN Salatiga. Faizatun Nazila Maulatul Muslim, mahasiswa Program Studi Hukum Keluarga Islam semester 3 yang juga aktif sebagai pengurus Ma’had Al-Jami’ah UIN Salatiga, baru saja mengukir prestasi luar biasa. Ia berhasil meraih Juara 3 Lomba Debat Hukum dalam ajang Musabaqoh Fahmil Ahwal Syakhsiyah/LCC tingkat nasional.
Kompetisi ini diselenggarakan oleh HMPS Hukum Keluarga Islam UIN Raden Mas Said Surakarta yang mengusung tema Family Law Fair 4.0. Lomba ini diadakan untuk mengasah kemampuan berfikir kritis, melatih keberanian berpendapat, serta memperdalam pemahaman tentang hukum keluarga islam di kalangan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi. Pendaftaran dibuka sejak 25 Agustus 2026, dan puncak acara sekaligus pengumuman hasil berlangsung pada 17 September 2026 di kampus tersebut. Nazila turun bertanding sebagai delegasi resmi HMPS Hukum Keluarga Islam, membawa nama UIN Salatiga sekaligus Ma’had Al-Jami’ah yang ia wakili, bersaing dengan peserta dari berbagai perguruan tinggi di seluruh Indonesia.
Mahasiswa asal Brebes ini bercerita dengan tulus tentang perjalanannya, “Jujur saja, dari awal dapat kabar terpilih mewakili kampus, Alhamdulillah rasanya senang banget, sekaligus sedikit gugup. Terlebih lagi saya juga pengurus Ma’had, rasanya ingin tampil sebaik mungkin, tidak hanya untuk diri sendiri tapi juga untuk lingkungan tempat saya belajar dan mengabdi. Tapi semua itu saya jalani dengan senang hati, karena saya tahu ini kesempatan yang tidak datang dua kali.” Kesan selama mengikuti lomba, Nazila menjawab dengan mantap, “Yang paling membekas itu bukan soal piala atau hasil akhirnya. Yang saya rasakan sepanjang prosesnya itu pentingnya menjaga kekompakan dalam tim. Itu pelajaran paling berharga yang saya dapatkan.”
Bagi Nazila, hasil yang diraih ini bukan semata-mata karena kemampuan pribadi, melainkan juga doa dan dukungan banyak pihak. Ia pun menyampaikan pesan yang menyentuh hati untuk mahasantri dan pengurus Ma’had Al-Jami’ah. “Saya cuma mau bilang satu hal, jangan pernah takut untuk mencoba. Seringkali kita berhenti sebelum mulai karena takut gagal, takut salah, takut dinilai orang. Padahal sekadar berani melangkah itu sudah kemenangan. Jangan tunggu merasa siap sempurna, karena tidak akan pernah ada waktu yang benar-benar sempurna.”
Semoga langkah yang sudah ditapak ini menjadi jalan yang terus terbuka membawa lebih banyak pengalaman berharga, pertemuan yang menumbuhkan, dan pencapaian yang manis di hari-hari ke depan. Semangat tidak pernah berhenti di sini, ini baru permulaan dari perjalanan yang jauh lebih indah. (Penulis: Hikmah, Editor: Sam)
